Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu pagi (22/4/2026) dibuka melemah 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.156 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh masih tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara AS dan Iran.
“Pasar masih waspada karena belum ada kepastian perpanjangan gencatan senjata. Dolar AS cenderung menguat sebagai aset safe haven sementara investor menunggu perkembangan negosiasi di Pakistan,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat melemah ke level Rp17.145 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.135 per dolar AS.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak mixed (beragam) dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp17.120 hingga Rp17.180 per dolar AS hari ini, tergantung pada hasil negosiasi AS-Iran dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Ekonom dari Bank Mandiri, Faisal Rachman, menyatakan bahwa tekanan eksternal akibat ketegangan geopolitik masih mendominasi pergerakan rupiah. Namun, fundamental ekonomi domestik yang solid, termasuk cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang terkendali, menjadi penahan rupiah.
“Meskipun ada pelemahan tipis, rupiah masih bergerak dalam kisaran yang wajar. Kami perkirakan BI akan terus melakukan intervensi di pasar DNDF untuk menjaga stabilitas,” ujar Faisal.
(*ANT/ *Bloomberg)

