Jakarta, Komentarnews – Meskipun inflasi nasional pada bulan April 2026 tercatat melandai, Bank Indonesia (BI) justru melihat ancaman baru yang jauh lebih besar mulai muncul dari luar negeri. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian global dinilai dapat memicu gelombang inflasi baru di dalam negeri.
Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini turun cukup signifikan dibandingkan bulan Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen. Inflasi inti juga ikut melandai menjadi 2,44 persen.
Penurunan ini ditopang oleh membaiknya pasokan pangan di tengah musim panen raya, serta mulai hilangnya efek kebijakan diskon tarif listrik dari tahun lalu.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (20/5/2026), mengingatkan bahwa tekanan justru akan datang dari eksternal.
“Ke depan harga harga minyak dan komoditas tinggi dapat berdampak pada tekanan inflasi imported inflation dan harga diatur pemerintah termasuk harga energi non subsidi,” papar Perry yang dikutip dari CNBC Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan di tengah memburuknya ketegangan geopolitik yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan, serta mengganggu rantai pasok global.
Menurut laporan BeritaSatu, situasi ini membuat prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat menjadi sekitar 3,0 persen, sementara tekanan inflasi global meningkat ke kisaran 4,3 persen. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia telah melonjak kembali di atas USD 110 per barel dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran baru tentang tekanan biaya energi yang berkepanjangan di seluruh dunia.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman tersebut dan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.700 per dolar AS, Bank Indonesia secara agresif menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada pertengahan Mei 2026.
Keputusan yang diumumkan pada Rabu (20/5/2026) ini merupakan kenaikan suku bunga pertama sejak April 2024 dan lebih besar dari ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan 25 bps.
“Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada stabilitas untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan resminya.
Selain harga minyak, BI juga menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat. Suku bunga The Fed diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026, bahkan berpotensi naik pada 2027 karena inflasi AS yang masih tinggi.
Hal ini mendorong terjadinya pelarian modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset-aset aman (safe-haven assets) seperti obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun pun tercatat melonjak menjadi 4,66 persen.
“Ketidakpastian global yang meningkat membuat aliran modal cenderung keluar dari emerging markets dan masuk ke aset yang lebih aman, sehingga memberi tekanan pada nilai tukar berbagai negara,” ujar Perry Warjiyo dalam siaran pers yang dikutip Suara.com.
Meskipun waspada terhadap ancaman inflasi, Bank Indonesia tetap optimistis terhadap fundamental ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tercatat solid sebesar 5,61 persen secara tahunan, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan realisasi program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, dengan komitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter gama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
(suaramerdeka/cnbcindonesia/katadata**/beritasatu**/tradingeconomics*)
Tags: Bank Indonesia, inflasi, Perry Warjiyo, suku bunga, harga minyak, imported inflation, rupiah, geopolitik






