Bantul, YOGYAKARTA, Komentarnews – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam terhadap narasi pesimistis yang berkembang di media sosial mengenai lesunya daya beli masyarakat. Ia menyebut analisis yang miring tersebut sebagai produk “Ekonomi TikTok” yang tidak berdasar pada data riil lapangan.
Pernyataan tegas ini disampaikan Purbaya dalam forum Business Talk Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Kabupaten Bantul, DIY, pada Jumat (22/5/2026) .
Di hadapan para akademisi, mahasiswa, dan bankir nasional, Purbaya mengaku awalnya bingung dengan adanya kesenjangan antara data makro ekonomi yang positif dengan keluhan masyarakat di media sosial.
“Terus terang, saya juga bingung kenapa ada anggapan seperti itu. Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ‘Ekonomi TikTok’,” seloroh Purbaya dalam acara yang juga dihadiri oleh Chairman CT Corp Chairul Tanjung tersebut .
Untuk membantah anggapan lesu, Purbaya membeberkan data indikator konsumsi masyarakat pada April 2026. Ia mengaku sempat melakukan investigasi mandiri apakah data Produk Domestik Bruto (PDB) pemerintah tidak akurat.
Hasilnya, berbagai indikator justru menunjukkan lonjakan impresif yang menandakan geliat ekonomi masyarakat, terutama setelah periode Lebaran 2026:
Otomotif: Penjualan mobil yang sempat minus pada Maret, meroket 55 persen pada April. Penjualan sepeda motor juga melesat 28 persen .
Industri & Energi: Konsumsi semen sebagai indikator pembangunan tumbuh 36 persen, diiringi peningkatan signifikan pada penjualan listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) .
“Artinya kelihatannya daya beli masyarakat enggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok,” tukasnya tegas .
Selain soal daya beli, Purbaya juga meluruskan miskonsepsi publik yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dikatrol oleh belanja pemerintah, misalnya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau belanja pertahanan.
Purbaya mengakui bahwa pemerintah memang mewajibkan kementerian membelanjakan anggaran secara merata sejak triwulan pertama (tumbuh 21,80 persen year on year). Namun, porsi konsumsi masyarakat (swasta) tetap menjadi kontributor utama .
“Saya bilang ke kementerian-kementerian, belanjakan anggaran anda triwulan pertama dengan baik, kalau enggak triwulan-triwulan berikutnya saya potong,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa peran sektor swasta dan konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung ekonomi .
Sebelumnya, pada Rabu (20/5/2026) dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Purbaya juga telah mengungkapkan optimisme serupa. Saat itu, ia menyebutkan bahwa penjualan mobil dan motor April 2026 naik signifikan dibandingkan Maret 2026 yang terkontraksi akibat faktor musiman Lebaran .
Ia juga mengisyaratkan percepatan ekonomi lebih lanjut mulai Juni 2026 dengan rencana pemberian insentif untuk kendaraan listrik.
“Juni saya pikir akan tumbuh lebih cepat lagi, karena pemerintah akan mengeluarkan insentif untuk mobil listrik dan motor listrik. Kita ingin ada stimulus tambahan di perekonomian,” jelasnya .
(Kompas.com/CNN Indonesia/TribunJogja/Suara.com/RRI)






