Jakarta, KomentarNews – Pasar saham Indonesia memulai pekan ini dengan pukulan telak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (11/5/2026) siang terus terperosok ke zona merah.
IHSG tercatat anjlok hingga 1,58 persen atau turun 110 poin ke level 6.859. Sembilan dari sebelas sektor saham kompak memerah, mencerminkan tekanan yang meluas di hampir seluruh lini.
Dua sektor yang menjadi penekan utama adalah sektor energi dan bahan baku. Sektor energi ambruk 2,61 persen, sementara sektor bahan baku terperosok lebih dalam lagi hingga 3,26 persen.
Keduanya menjadi biang kerok utama merosotnya IHSG di awal pekan ini.
Dari dalam negeri, kekhawatiran pasar dipicu oleh wacana pemerintah yang ingin menaikkan tarif royalti untuk komoditas mineral dan batu bara (minerba). Skema royalti progresif ini ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026 mendatang.
Komoditas emas mencatat kenaikan tarif batas bawah yang cukup drastis, yakni mencapai 100 persen dari ketentuan sebelumnya. Kebijakan ini langsung berdampak pada saham-saham tambang yang harganya jeblok di perdagangan hari ini.
Dari eksternal, kebuntuan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran semakin membuat pasar gelisah. Perundingan yang tak kunjung menemukan titik terang membuat dolar AS kembali perkasa dan harga minyak mentah dunia ikut terangkat.
Kondisi ini menjadi beban ganda bagi Indonesia sebagai negara importir energi.
Tak hanya saham tambang, harga emas dunia pun ikut terkena imbas. Ketegangan geopolitik yang biasanya mendongkrak harga emas justru kali ini tidak berlaku. Kenaikan dolar AS yang tajam membuat harga logam mulia ini ikut tertekan.
(detikfinance/antara/cnbcindonesia/bloomberg***)



