Washington D.C. Komentarnews – Militer Amerika Serikat mulai memanfaatkan teknologi anti-drone buatan Ukraina untuk memperkuat pertahanan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah setelah serangkaian serangan drone dan rudal dari Iran dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini menandai babak baru kerja sama pertahanan kedua negara, di mana pengalaman Ukraina menghadapi drone Shahed buatan Iran di medan perang dimanfaatkan langsung untuk melindungi aset dan personel AS di kawasan Teluk.
Menurut sumber yang dikutip Reuters, sistem counter-drone Ukraina telah dipasang di salah satu pangkalan udara utama AS di Arab Saudi dalam beberapa minggu terakhir. Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menjatuhkan drone bermuatan bahan peledak dengan biaya yang lebih murah dibandingkan penggunaan rudal pencegat bernilai jutaan dolar yang selama ini digunakan militer AS.
Salah satu teknologi kunci yang menarik perhatian Pentagon adalah Detachable Drone Hijacker (DDH) , sebuah sistem counter-UAS kecil dan murah yang dikembangkan oleh Naval Postgraduate School (NPS) Amerika Serikat, bukan dari Ukraina. Namun, para perwira Angkatan Laut AS yang mengembangkannya mengakui bahwa mereka belajar banyak dari medan perang Ukraina, di mana drone Shahed Iran digunakan secara masif oleh Rusia.
“Ini hanya dengan biaya $250, bisa dipasang di drone apapun yang memiliki tempat untuk muatan; ia memilih serangan cyber, dan drone musuh menjadi lumpuh,” kata Robb Knie, ketua perusahaan teknologi pertahanan Amerika First Defense (AFD), yang telah mendapatkan lisensi untuk mengkomersialkan DDH .
DDH menggunakan serangan cyber de-authentication untuk menargetkan drone lawan yang menggunakan standar wi-fi IEEE 902.11. Beratnya hanya 457 gram dan mengkonsumsi daya maksimum 492 miliampere. Sistem ini telah berhasil menjatuhkan drone Parrot Bebop 2 dan Skydio 2+ dalam uji coba pada Mei 2022 .
Keputusan Washington beralih ke teknologi yang terinspirasi dari medan perang Ukraina terjadi setelah serangan besar Iran dan kelompok-kelompok sekutunya yang menargetkan sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah. Ukraina, yang selama dua tahun terakhir berhadapan langsung dengan drone Shahed yang sama di front perang melawan Rusia, telah mengembangkan ekosistem teknologi anti-drone yang cepat, adaptif, dan relatif murah.
Ukraina juga baru-baru ini mencatatkan rekor dunia dengan menembak jatuh drone Shahed Rusia menggunakan interceptor drone yang diluncurkan dari platform laut untuk pertama kalinya dalam sejarah. “Penggunaan kendaraan di atas air untuk penyebaran interceptor drone memperluas kemampuan melawan ancaman udara dan membentuk eselon perlindungan tambahan bagi kota-kota Ukraina,” demikian pernyataan Pasukan Sistem Tanpa Awak Ukraina .
Mayor Christian Thiessen, salah satu penemu DDH dan alumnus NPS, menegaskan bahwa pengalaman di Ukraina telah mengubah cara pandang AS terhadap perang drone. “AS membangun platform high-end yang luar biasa seperti kapal induk kelas Ford, F-35, atau MQ-9. Namun, seperti yang kita lihat dalam perang saat ini di Iran dan Ukraina, platform high-end ini semakin rentan terhadap serangan asimetris dari sistem tanpa awam yang terdistribusi dan berbiaya rendah,” ujarnya.
“Drone serangan satu arah yang murah, seperti Shahed Iran, memiliki dampak besar pada upaya perang saat ini, dan teknologi seperti DDH dapat membantu melawan ancaman tersebut dengan cara yang scalable dan hemat biaya,” tambah Thiessen .
Sumber-sumber menyebut, selain pemasangan sistem di lapangan, pejabat dan pengembang teknologi Ukraina juga melakukan koordinasi intensif dengan komandan militer AS untuk menyesuaikan taktik pertahanan terhadap pola serangan Iran. Meski Gedung Putih dan Pentagon belum mengumumkan secara resmi detail kerja sama ini, pejabat yang mengetahui pembicaraan menilai kemitraan dengan Ukraina memberi keuntungan ganda: memperkuat pertahanan AS di Timur Tengah sekaligus mengakui keunggulan teknologi pertahanan yang dikembangkan Kyiv selama perang.
(*Reuters/ *Navy.mil/ *SOFX/ Business Korea)


