Friday, April 17, 2026

Dua Metode Ilmuwan China Ciptakan Tanaman Bercahaya: Dari DNA Hewan hingga Partikel Ajaib, Masa Depan Penerangan Ramah Lingkungan

Jakarta, Komentarnews – Dunia sains kembali dikejutkan oleh inovasi dari China. Para ilmuwan di Negeri Tirai Bambang berhasil menciptakan tanaman yang bisa bersinar dalam gelap. Dengan memanfaatkan dua pendekatan revolusioner—rekayasa genetika menggunakan DNA hewan dan teknik “nanobionik” dengan partikel fosfor—tanaman-tanaman ini diyakini berpotensi menjadi sumber penerangan rendah karbon di masa depan, menggantikan lampu jalan konvensional.

Metode 1: Rekayasa Genetika (Magicpen Bio)

Pendekatan pertama dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Magicpen Bio yang didirikan oleh Dr. Li Renhan, lulusan China Agricultural University. Tim peneliti berhasil mentransfer gen penghasil cahaya dari kunang-kunang (fireflies) dan jamur bercahaya ke dalam DNA tanaman.

“Kami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke tanaman agar bisa bersinar di malam hari,” ujar Dr. Li Renhan dalam wawancara dengan Euronews, dikutip Rabu (15/4/2026).

Hingga saat ini, lebih dari 20 spesies tanaman telah berhasil dimodifikasi, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan. Tanaman hasil rekayasa genetika ini mampu memancarkan cahaya alami secara terus menerus selama tanaman hidup, hanya dengan air dan pupuk, tanpa memerlukan listrik.

“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya banyak uang. Kunang-kunang sering hinggap di lengan saya. Pengalaman itu yang menginspirasi saya,” kenang Dr. Li Renhan, pendiri Magicpen Bio, menceritakan awal mula penelitiannya.

Ia membayangkan masa depan di mana lanskap kota dipenuhi tanaman bercahaya. “Bayangkan sebuah lembah penuh tanaman bercahaya di malam hari, seperti dunia ‘Avatar’ di Bumi,” tambahnya.

Metode 2: Teknik Nanobionik (Universitas Pertanian China Selatan)

Pendekatan kedua dikembangkan oleh tim peneliti dari South China Agricultural University yang dipublikasikan di jurnal Cell子刊 Matter pada 27 Agustus 2025. Alih-alih mengubah DNA tanaman, mereka menyuntikkan mikropartikel fosforesen ke dalam daun sukulen jenis Echeveria “Mebina”.

“Bayangkan pohon yang menyala menggantikan lampu jalan,” kata Shuting Liu, penulis utama studi tersebut, dalam sebuah pernyataan.

Partikel-partikel ini menyerap energi dari cahaya matahari atau lampu LED dan menyimpannya. Kemudian, mereka melepaskan energi tersebut secara perlahan dalam bentuk cahaya selama hingga dua jam, dengan kecerahan setara lampu tidur kecil.

Keunggulan metode ini adalah kemampuannya menghasilkan cahaya multi-warna—hijau, merah, biru, ungu, hingga putih—tergantung jenis partikel yang digunakan. Para peneliti bahkan berhasil membangun dinding tanaman dari 56 sukulen bercahaya yang cukup terang untuk membaca dalam kegelapan.

“Proses ini sederhana, hemat biaya, dan bisa menghasilkan cahaya dalam waktu kurang dari 10 menit, membuka jalan bagi pencahayaan praktis berbasis tanaman,” tulis para peneliti.

Aspek Magicpen Bio (Rekayasa Genetika) South China Agricultural University (Nanobionik)
Mekanisme Menyisipkan DNA hewan (kunang-kunang/jamur) ke tanaman Menyuntikkan partikel fosfor (strontium aluminium) ke daun
Sumber Cahaya Bioluminesensi (reaksi kimia internal) Fosforesensi (menyerap & melepas cahaya)
Perawatan Mandiri (hanya air dan pupuk) Perlu “diisi ulang” dengan sinar matahari/LED
Warna Terbatas (hijau) Multi-warna (hijau, biru, merah, ungu, putih)
Durasi Selama tanaman hidup Hingga 2 jam per pengisian
Biaya Lebih kompleks Sekitar 10 yuan (Rp22.000) per tanaman

Kedua teknologi ini membuka kemungkinan baru dalam cara manusia memanfaatkan alam sebagai sumber energi. Para ilmuwan memproyeksikan tanaman bercahaya dapat menjadi alternatif pencahayaan taman kota, ruang publik, hingga mendukung sektor pariwisata malam hari.

Namun, para ahli lingkungan menekankan perlunya kewaspadaan terhadap risiko ekologis. Cahaya konstan dari tanaman di malam hari berpotensi mengganggu siklus sirkadian hewan nokturnal dan perilaku serangga.

Keith Wood, CEO perusahaan bioteknologi Light Bio (USA), memberikan pandangan yang lebih konservatif. Ia percaya bahwa tanaman bioluminesen kemungkinan besar tidak akan menjadi pengganti bola lampu. “Kami menciptakan sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan sedikit ajaib,” ujarnya.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, inovasi ini membawa umat manusia selangkah lebih dekat ke dunia seperti dalam film “Avatar”, di mana alam sendiri yang menerangi kegelapan.

(*Euronews/ *Cell子刊 Matter/ *New Atlas/ *South China Agricultural University)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita terkait

Selfie Monyet 2011 Jadi Kunci Hukum AI Copyright Mahkamah Agung AS

London, Komentarnews - Foto selfie yang diambil monyet crested...

YouTube Tunda Iklan saat Chat Ramai, Penonton Dukung Kreator Bebas Iklan Sementara

Jakarta, KomentarNews – YouTube mengumumkan pembaruan pada pengalaman pengguna saat...

Rockstar Games Kembali Diretas, Kelompok ShinyHunters Klaim Curi Data, Tapi Perusahaan Bilang “Tidak Berdampak”

Jakarta, Komentarnews – Pengembang game fenomenal Grand Theft Auto (GTA),...

Jerome Powell dan Scott Bessent Panggil Wall Street Bahas Celah Keamanan AI Mythos Milik Anthropic

Washington D.C. KomentarNews – Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) Jerome...

WeChat Larang Konten Hasilkan AI Sepenuhnya: “Kami Dukung Kreativitas Manusia Sejati”

Beijing, KomentarNews – Aplikasi pesan instan dan media sosial asal...

Tag # Terpopuler

Iklan

DiJual : Rumah di mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi: wa: 0811439028 atau email: advertisement@komentar-news.com