Jakarta, Komentarnews – Dunia sains kembali dikejutkan oleh inovasi dari China. Para ilmuwan di Negeri Tirai Bambang berhasil menciptakan tanaman yang bisa bersinar dalam gelap. Dengan memanfaatkan dua pendekatan revolusioner—rekayasa genetika menggunakan DNA hewan dan teknik “nanobionik” dengan partikel fosfor—tanaman-tanaman ini diyakini berpotensi menjadi sumber penerangan rendah karbon di masa depan, menggantikan lampu jalan konvensional.
Metode 1: Rekayasa Genetika (Magicpen Bio)
Pendekatan pertama dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Magicpen Bio yang didirikan oleh Dr. Li Renhan, lulusan China Agricultural University. Tim peneliti berhasil mentransfer gen penghasil cahaya dari kunang-kunang (fireflies) dan jamur bercahaya ke dalam DNA tanaman.
“Kami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke tanaman agar bisa bersinar di malam hari,” ujar Dr. Li Renhan dalam wawancara dengan Euronews, dikutip Rabu (15/4/2026).
Hingga saat ini, lebih dari 20 spesies tanaman telah berhasil dimodifikasi, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan. Tanaman hasil rekayasa genetika ini mampu memancarkan cahaya alami secara terus menerus selama tanaman hidup, hanya dengan air dan pupuk, tanpa memerlukan listrik.
“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya banyak uang. Kunang-kunang sering hinggap di lengan saya. Pengalaman itu yang menginspirasi saya,” kenang Dr. Li Renhan, pendiri Magicpen Bio, menceritakan awal mula penelitiannya.
Ia membayangkan masa depan di mana lanskap kota dipenuhi tanaman bercahaya. “Bayangkan sebuah lembah penuh tanaman bercahaya di malam hari, seperti dunia ‘Avatar’ di Bumi,” tambahnya.
Metode 2: Teknik Nanobionik (Universitas Pertanian China Selatan)
Pendekatan kedua dikembangkan oleh tim peneliti dari South China Agricultural University yang dipublikasikan di jurnal Cell子刊 Matter pada 27 Agustus 2025. Alih-alih mengubah DNA tanaman, mereka menyuntikkan mikropartikel fosforesen ke dalam daun sukulen jenis Echeveria “Mebina”.
“Bayangkan pohon yang menyala menggantikan lampu jalan,” kata Shuting Liu, penulis utama studi tersebut, dalam sebuah pernyataan.
Partikel-partikel ini menyerap energi dari cahaya matahari atau lampu LED dan menyimpannya. Kemudian, mereka melepaskan energi tersebut secara perlahan dalam bentuk cahaya selama hingga dua jam, dengan kecerahan setara lampu tidur kecil.
Keunggulan metode ini adalah kemampuannya menghasilkan cahaya multi-warna—hijau, merah, biru, ungu, hingga putih—tergantung jenis partikel yang digunakan. Para peneliti bahkan berhasil membangun dinding tanaman dari 56 sukulen bercahaya yang cukup terang untuk membaca dalam kegelapan.
“Proses ini sederhana, hemat biaya, dan bisa menghasilkan cahaya dalam waktu kurang dari 10 menit, membuka jalan bagi pencahayaan praktis berbasis tanaman,” tulis para peneliti.
| Aspek | Magicpen Bio (Rekayasa Genetika) | South China Agricultural University (Nanobionik) |
|---|---|---|
| Mekanisme | Menyisipkan DNA hewan (kunang-kunang/jamur) ke tanaman | Menyuntikkan partikel fosfor (strontium aluminium) ke daun |
| Sumber Cahaya | Bioluminesensi (reaksi kimia internal) | Fosforesensi (menyerap & melepas cahaya) |
| Perawatan | Mandiri (hanya air dan pupuk) | Perlu “diisi ulang” dengan sinar matahari/LED |
| Warna | Terbatas (hijau) | Multi-warna (hijau, biru, merah, ungu, putih) |
| Durasi | Selama tanaman hidup | Hingga 2 jam per pengisian |
| Biaya | Lebih kompleks | Sekitar 10 yuan (Rp22.000) per tanaman |
Kedua teknologi ini membuka kemungkinan baru dalam cara manusia memanfaatkan alam sebagai sumber energi. Para ilmuwan memproyeksikan tanaman bercahaya dapat menjadi alternatif pencahayaan taman kota, ruang publik, hingga mendukung sektor pariwisata malam hari.
Namun, para ahli lingkungan menekankan perlunya kewaspadaan terhadap risiko ekologis. Cahaya konstan dari tanaman di malam hari berpotensi mengganggu siklus sirkadian hewan nokturnal dan perilaku serangga.
Keith Wood, CEO perusahaan bioteknologi Light Bio (USA), memberikan pandangan yang lebih konservatif. Ia percaya bahwa tanaman bioluminesen kemungkinan besar tidak akan menjadi pengganti bola lampu. “Kami menciptakan sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan sedikit ajaib,” ujarnya.
Meskipun masih dalam tahap pengembangan, inovasi ini membawa umat manusia selangkah lebih dekat ke dunia seperti dalam film “Avatar”, di mana alam sendiri yang menerangi kegelapan.
(*Euronews/ *Cell子刊 Matter/ *New Atlas/ *South China Agricultural University)

