Washington D.C.KomentarNews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Harapan akan adanya terobosan cepat menuju kesepakatan damai kembali meredup—karena Washington menganggap Teheran “sengaja menunda” pembahasan soal program nuklir.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Reuters bahwa usulan baru Teheran dinilai tidak cukup memenuhi tuntutan Washington, terutama karena Iran ingin menunda pembahasan program nuklir—inti kekhawatiran AS, Israel, dan negara-negara Barat—hingga setelah pertempuran berhenti.
Menurut sumber-sumber Iran yang dikutip media internasional, rencana yang diajukan Teheran berfokus pada tiga poin utama:
-
Penghentian permusuhan militer.
-
Pembukaan kembali Selat Hormuz.
-
Penyelesaian sengketa terkait pengiriman kapal di Teluk.
Sementara itu, isu nuklir dimasukkan sebagai agenda lanjutan setelah situasi keamanan dianggap stabil.
Bagi Washington, skema ini bermasalah karena dianggap berisiko mengurangi tekanan terhadap Iran tanpa jaminan bahwa program nuklirnya akan dibatasi sejak awal proses perdamaian.
“Ia (Trump) tidak menyukai proposal itu,” kata pejabat AS tersebut, merujuk pada sikap Trump setelah menerima paparan dari tim keamanan nasionalnya di Gedung Putih.
Pejabat itu menegaskan posisi dasar AS: setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus sekaligus mencakup pengaturan yang jelas terkait program nuklir Iran, bukan menundanya hingga fase berikutnya.
Laporan CNN mengungkap, usulan Iran kemungkinan besar tidak akan diterima karena mensyaratkan:
-
Diakhirinya blokade maritim AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
-
Pembukaan kembali Selat Hormuz sebelum ada kesepakatan konkret soal nuklir.
Para penasihat Trump khawatir, jika blokade dicabut lebih dulu, daya tawar Washington untuk memaksa Iran menerima pembatasan nuklir yang lebih ketat akan melemah.
Sejak awal April, Trump beberapa kali menyatakan bahwa AS siap membuat “kesepakatan besar” dengan Iran, namun juga mengeluarkan ancaman keras apabila Teheran tidak bersedia memenuhi tuntutannya.
Timeline singkat yang dirangkum media:
-
Awal April 2026: Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan dan memberi sinyal adanya kemajuan melalui mediator seperti Pakistan.
-
Kemudian: Trump kembali menekan Iran dengan pernyataan kontroversial bahwa “satu peradaban bisa lenyap malam ini” jika Teheran menolak syarat-syarat AS.
Sementara itu, Iran bersikeras bahwa setiap pengaturan pasca-perang harus menghormati haknya atas penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai, meskipun negara-negara Barat curiga program itu dapat menjadi kedok untuk kemampuan senjata nuklir di masa depan.
Teheran memandang pemisahan isu nuklir dari kesepakatan gencatan senjata sebagai cara untuk mengurangi tekanan dan menghindari perundingan tergesa-gesa dalam situasi militer yang masih tegang.
Dengan sikap Trump yang “tidak senang” terhadap proposal terbaru, proses mediasi yang dilakukan melalui beberapa negara—termasuk Pakistan—kembali menemui titik buntu.
Para analis menilai, selama Washington dan Teheran tetap berselisih soal urutan prioritas—menghentikan perang dulu atau langsung mengikat Iran pada kesepakatan nuklir baru—peluang tercapainya perdamaian komprehensif akan terus tersandera oleh kalkulasi politik dan strategi tekanan kedua belah pihak.
Seorang diplomat senior yang tidak mau disebutkan namanya kepada Al Jazeera mengatakan:
“Kita sedang menyaksikan kembali skenario kebuntuan klasik. AS ingin segalanya sekaligus. Iran ingin napas. Sementara itu, bom terus berjatuhan.”
(Reuters, CNN, Al Jazeera, The Guardian)


