Moskow, Komentar – Perang yang berkecamuk di Iran menyebabkan lonjakan signifikan permintaan terhadap produk energi Rusia. Demikian disampaikan Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Jumat (6/3/2026), menyusul gejolak pasar energi global akibat meluasnya konflik di Timur Tengah.
“Kami melihat peningkatan signifikan dalam permintaan energi Rusia akibat perang di Iran. Rusia telah dan tetap menjadi pemasok minyak dan gas yang andal, baik gas pipa maupun gas alam cair (LNG). Rusia juga tetap mampu menjamin kelangsungan semua pasokan yang dikontrak,” kata Peskov.
Pernyataan ini muncul sehari setelah Amerika Serikat memberikan kelonggaran berupa “keringanan 30 hari” kepada India untuk membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut, di tengah gangguan pasar energi akibat konflik Timur Tengah.
Sebelum konflik dengan Iran, AS kerap mengecam India karena terus membeli minyak Rusia yang dinilai membantu mendanai perang Kremlin di Ukraina. Washington bahkan telah menerapkan tarif hukuman terhadap New Delhi terkait pembelian tersebut.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan pemberian keringanan sementara. Bessent mengklaim bahwa “langkah sementara yang disengaja ini tidak akan memberikan keuntungan finansial yang signifikan” bagi Rusia.
Menanggapi hal ini, Peskov menyatakan bahwa pembeli seperti India dan China dalam membeli energi Rusia didasari oleh “kepentingan nasional” masing-masing negara.
“Kami melakukan hal yang sama,” kata Peskov. “Kami melanjutkan kerja sama, termasuk dalam perdagangan energi, dengan India dan China.”
Dengan memanasnya konflik di Timur Tengah dan terganggunya pasokan energi dari kawasan tersebut, Rusia dipandang semakin diuntungkan sebagai salah satu pemasok energi alternatif yang stabil bagi negara-negara konsumen besar seperti India dan China.
(*Reuters/ *AP/ TASS)
