Washington D.C. KomentarNews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut para pemimpin baru Iran “sangat rasional” dan menyatakan keyakinannya bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai cukup besar. Pernyataan ini disampaikan di tengah persiapan Pakistan menjadi tuan rumah pembicaraan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan di Timur Tengah.
Trump mengungkapkan bahwa AS dan Iran telah melakukan pertemuan “langsung dan tidak langsung”. Ia menggambarkan pimpinan baru Iran sebagai “sangat reasonable” (sangat masuk akal) dan menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan akan tercapai, meskipun ia tetap membuka kemungkinan sebaliknya.
“Mereka sangat rasional. Saya pikir kita punya peluang bagus untuk mencapai kesepakatan. Tapi kita lihat saja nanti,” ujar Presiden Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (30/3/2026), seperti dikutip Reuters.
Pernyataan Trump disampaikan ketika Pakistan, yang bertindak sebagai perantara, mengumumkan bahwa mereka sedang mempersiapkan “pembicaraan yang bermakna” dalam beberapa hari ke depan di Islamabad. Tujuannya adalah mencari penyelesaian komprehensif atas perang Iran yang telah mengguncang pasar energi global.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan bahwa pertemuan para menteri luar negeri kawasan telah membahas cara mengakhiri perang lebih cepat serta potensi dialog antara AS dan Iran. Namun, hingga saat ini belum jelas apakah kedua negara telah menyatakan kesediaan untuk hadir dalam pembicaraan tersebut.
“Pakistan siap memfasilitasi dialog yang konstruktif untuk perdamaian kawasan,” ujar Dar dalam pernyataannya.
Di pihak Iran, sejumlah pejabat tinggi merespons pernyataan Trump dengan hati-hati. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh AS mengirim sinyal tentang negosiasi sambil tetap mempersiapkan opsi invasi. Ia menegaskan bahwa Teheran “tidak akan menerima penghinaan” jika AS menuntut Iran menyerah.
“Kami mendengar pernyataan tentang negosiasi, tetapi di lapangan, mereka terus mengirim pasukan dan mempersiapkan serangan. Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan dan penghinaan,” ujar Qalibaf, seperti dikutip oleh kantor berita Iran, IRNA.
Konflik antara Iran dan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu telah menyebabkan gangguan besar pada pasokan energi global. Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk dan ketidakpastian di Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang sempat menembus angka 100 dolar AS per barel.
Upaya diplomasi melalui Pakistan ini diharapkan dapat menjadi terobosan untuk mengakhiri perang yang telah menelan ribuan korban jiwa dari kedua belah pihak.
(*Reuters/ *AP/ *IRNA/ *Al Jazeera)
