Dubai, Komentarnews – Iran menyerang dan membakar sebuah supertanker minyak berbendera Kuwait yang sarat muatan di lepas pantai Dubai, Selasa (31/3/2026), sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan “menghancurkan total” infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka .
Supertanker raksasa Al-Salmi milik Kuwait Petroleum Corp terkena serangan drone Iran di Anchorage E, sekitar 31 mil laut barat laut Dubai, pada Selasa dini hari. Kapal yang sarat muatan sekitar 2 juta barel minyak—bernilai lebih dari 200 juta dolar AS—mengalami kebakaran dan kerusakan pada lambung kapal .
Otoritas Dubai menyatakan seluruh 24 awak kapal berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tidak ada korban jiwa, dan kebakaran telah berhasil dipadamkan tanpa kebocoran minyak signifikan .
Serangan ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian serangan terhadap kapal dagang di Teluk dan Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu .
Dalam unggahan di Truth Social, Senin (30/3), Trump menyatakan bahwa jika dalam waktu dekat tidak tercapai kesepakatan dan Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, AS akan “meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg” Iran .
Pulau Kharg merupakan pusat pengiriman sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. Trump juga menyebut kemungkinan menghancurkan pabrik desalinasi air di Iran .
Pakar hukum internasional menilai ancaman Trump terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan fasilitas air dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan hukuman kolektif yang dilarang Konvensi Jenewa .
Yusra Suedi, pakar Hukum Internasional Universitas Manchester, mengatakan ancaman Trump “tidak bisa dianggap enteng” dan merupakan “hukuman kolektif dalam peperangan” yang dilarang hukum internasional .
Trump mengklaim bahwa AS sedang dalam “diskusi serius” dengan kepemimpinan baru Iran yang “lebih rasional” dan yakin kesepakatan akan segera tercapai dalam waktu 10 hari .
Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan proposal AS dinilai “tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan” .
“Posisi kami jelas. Kami berada di bawah agresi militer. Seluruh upaya dan kekuatan kami terfokus pada membela diri,” tegas Baghaei .
Konflik yang telah memasuki minggu kelima ini mengakibatkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2022, sementara Brent crude sempat menyentuh 116 dolar AS per barel .
Harga ritel bensin nasional AS juga melampaui 4 dolar AS per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun .
(*Reuters/ *AP/ *ANT/ *Kompas)

