Jakarta, KomentarNews – Dolar AS melemah pada Selasa (21/4/2026) saat investor beralih ke aset berisiko, didorong harapan kesepakatan AS-Iran yang dapat membuka kembali pengiriman minyak di Teluk. Sementara itu, yen Jepang tertekan setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga.
Indeks dolar AS yang mengukur nilai mata uang greenback terhadap enam mata uang utama lainnya stabil di 98,087, setelah turun 0,2 persen pada Senin (20/4).
Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia (CBA), Carol Kong, menyatakan bahwa negosiasi antara AS dan Iran akan menjadi penggerak utama pasar dalam 24 jam ke depan. Pasar saat ini menunggu sikap Presiden Donald Trump yang ingin mengakhiri perang dengan cepat.
“Negosiasi kedua pihak menjadi penggerak kunci 24 jam ke depan; pasar menunggu sikap Trump yang ingin mengakhiri perang dengan cepat,” ujar Kong.
Kong menambahkan bahwa terdapat risiko dua arah untuk dolar AS, tergantung pada hasil negosiasi dengan Iran. Presiden Trump mengklaim pembicaraan berjalan “relatif cepat” dengan persyaratan yang lebih baik bagi AS, namun Teheran belum memutuskan langkah diplomatik setelah eskalasi konflik.
Yen Jepang stabil di level 158,955 per dolar AS, mendekati level kritis 160 yang berpotensi memicu intervensi. Bank of Japan (BoJ) terus memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Jepang sebelum memutuskan kebijakan suku bunga selanjutnya.
Mata uang Selandia Baru (Kiwi) naik 0,3 persen menjadi 0,59085 dolar AS setelah data inflasi kuartal I tetap di 3,1 persen. Sementara itu, euro berada di 1,1782 dolar AS dan sterling di 1,35225 dolar AS, masing-masing melemah 0,1 persen.
Analis pasar dari Monex Investindo Futures, Faisyal, menilai bahwa pelemahan dolar AS bersifat sementara karena pasar masih menanti kepastian kesepakatan Iran. “Jika negosiasi gagal, dolar AS berpotensi menguat kembali sebagai aset safe haven. Sebaliknya, jika berhasil, investor akan beralih ke aset berisiko,” ujar Faisyal.
(*Reuters/ *)

