Dubai, KomentarNews – Pekan-pekan perang dan blokade Selat Hormuz semakin memperburuk krisis ekonomi Iran, namun para analis menilai Republik Islam itu masih mampu bertahan cukup lama. Keruntuhan ekonomi yang diharapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mungkin akan datang “terlalu terlambat” untuk memberikan keuntungan politik besar baginya di tengah ancaman inflasi global dan pemilu sela AS yang kian mendekat.

Dalam laporannya, Reuters menyebut ekonomi Iran menghadapi prospek jangka panjang yang suram, tetapi sejauh ini tetap cukup tangguh untuk melewati kebuntuan di Teluk meski ekspor energinya tercekik oleh blokade AS. Trump berulang kali menggambarkan Iran sedang “kolaps secara finansial”, mengklaim Teheran kehilangan sekitar 500 juta dolar AS per hari akibat tidak bisa mengekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Para peneliti dan pengamat Iran yang diwawancarai Reuters menilai para pemimpin di Teheran telah menghitung “landasan pacu” yang lebih panjang dari perkiraan pembuat kebijakan Barat.
Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah di think tank Chatham House, mengatakan para elite Iran bersandar pada konsep “ekonomi perlawanan” (resistance economy). Ini adalah kombinasi kontrol ketat, pengalihan perdagangan ke mitra non-Barat (seperti Rusia, China, Turki, dan Irak), serta pengetatan sabuk di dalam negeri untuk mempertahankan rezim meski rakyat menanggung beban inflasi.
“Mereka cukup dikenal menggunakan kapasitas represif. Mereka mengandalkan masyarakat untuk menggunakan tabungan mereka,” ujar Vakil, merujuk pada kemampuan Iran untuk mengerahkan sumber daya internal dan perdagangan darat dengan negara tetangga. Para elite melihat perang ini sebagai ancaman eksistensial bagi Republik Islam sehingga mereka bersedia menerima penderitaan ekonomi yang sangat berat.
Meskipun infrastruktur dan industri hancur serta ekspor minyak tersendat, Iran memiliki persediaan dalam negeri yang cukup dan perdagangan dengan tetangga yang stabil. Data pelayaran menunjukkan hanya sekitar 300.000 barel per hari yang keluar, turun drastis dari lebih 1 juta barel sebelum blokade, namun kapasitas penyimpanan minyak darat diperkirakan masih mampu bertahan beberapa bulan lagi.
Mengantisipasi guncangan, pemerintah Iran memperbanyak impor bahan pokok menjelang konflik dan disebut telah menimbun kebutuhan esensial hingga enam bulan. Bank Sentral Iran juga meluncurkan paket dukungan, menghapus penalti keterlambatan pembayaran pinjaman kecil, dan menaikkan batas penarikan tunai untuk meredam kepanikan deposan.
Menariknya, meskipun nilai mata uang rial terus merosot dan inflasi melambung tinggi, rak-rak supermarket tetap penuh dan kantor serta bank tetap buka. Para pejabat Iran menyebut negara ini memiliki cadangan emas yang sangat besar (“tons of it“) sebagai jaring pengaman.
Mohamad Elmasry, profesor media studies di Doha Institute, menilai bahwa keyakinan Washington bahwa blokade akan mendorong Iran ke dalam krisis penyimpanan minyak adalah “sangat dilebih-lebihkan”.
“Jauh lebih mungkin bahwa Iran akan terus menemukan cara-cara kreatif baru dan kemungkinan dapat bertahan setidaknya dua atau tiga bulan, jika tidak lebih,” ujar Elmasry kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, pertanyaan sesungguhnya bukanlah “mampukah Iran bertahan?”, melainkan “berapa besar biaya yang bersedia ditanggung Amerika Serikat?” . “Dua atau tiga bulan lagi akan menjadi bencana bagi ekonomi AS dan ekonomi global jika harga minyak terus melambung,” tegasnya.
Bagi Trump, kalkulasi waktunya rumit. Tekanan ekonomi yang terlalu lambat berbuah “keruntuhan” mungkin tidak sempat diterjemahkan menjadi konsesi besar dari Teheran sebelum pemilu sela AS dan dinamika domestik di Washington berubah. Sementara itu, kelanjutan blokade dan perang berisiko memicu resesi global karena lonjakan harga minyak yang membebani negara maju dan berkembang sekaligus.
(Chatham House, Reuters, Al Jazeera, Wall Street Journal, Quincy Institute)


