Jakarta, KomentarNews – Generasi muda Indonesia terus bertransformasi dalam menjalani gaya hidup. Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 yang dirilis IDN Research Institute mengungkap pergeseran signifikan dalam prioritas hidup Generasi Z, terutama dalam menyikapi pekerjaan, kesehatan mental, keuangan, dan media sosial.
Penelitian yang melibatkan 3.350 responden dari berbagai kota besar ini menunjukkan bahwa anak muda kini lebih memilih keseimbangan hidup (work-life balance) dibandingkan sekadar mengejar kesuksesan materi. Tren gaya hidup yang dulu digandrungi, seperti hustle culture hingga flexing, mulai perlahan ditinggalkan.
Berikut 7 tren lifestyle yang mulai ditinggalkan Gen Z di 2026 berdasarkan laporan tersebut:
1. Glorifikasi Burnout dan Hustle Culture
Jika beberapa tahun lalu konsep “gila kerja” dianggap sebagai jalan menuju sukses, kini pandangan itu mulai berubah. Gen Z mulai menyadari bahwa memaksakan diri bekerja tanpa henti hanya akan merusak kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.
Bukti nyata: Semakin populernya konten tentang pentingnya istirahat dan me time. Kini muncul istilah “quiet quitting” (melakukan pekerjaan sesuai standar tanpa over effort) yang lebih banyak didukung. Tagar seperti #RestIsProductive dan #SlowLiving juga semakin sering muncul di linimasa media sosial.
Berdasarkan survei McKinsey tahun 2025, lebih dari 60 persen pekerja Gen Z mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk resign jika kesehatan mental mereka terganggu .
2. Flexing dan Gaya Hidup Konsumtif
Budaya pamer kekayaan atau flexing yang sempat mendominasi media sosial mulai ditinggalkan. Gen Z kini lebih tertarik pada konten yang autentik dan relatable.
Mereka juga mulai menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living. Banyak anak muda yang mulai sadar bahwa gaya hidup konsumtif hanya akan menguras tabungan dan tidak memberikan kebahagiaan jangka panjang.
Fenomena yang terlihat: Maraknya konten tentang personal finance, investasi, dan gaya hidup hemat di media sosial. Tren #NoSpendChallenge, #FrugalLiving, dan #FinancialLiteracy juga semakin diminati.
3. Kebiasaan Chronically Online
Dulu, banyak yang bangga dengan status “online 24 jam” dan mengetahui setiap tren terbaru. Kini, Gen Z mulai menjaga privasi digital dan membatasi waktu berselancar di internet.
Mereka mulai sadar bahwa terlalu banyak terpapar media sosial dapat memicu kecemasan (anxiety), depresi, hingga rasa tidak percaya diri karena terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain.
Fenomena yang muncul: Tren “digital detox” atau “social media cleanse” semakin populer. Banyak anak muda mulai menghapus aplikasi media sosial dari ponsel mereka pada akhir pekan, mengurangi screen time, atau bahkan mengambil jeda dari media sosial selama berminggu-minggu.
4. Budaya Hidup Serba Cepat (Instant Gratification)
Gen Z mulai bosan dengan budaya instan yang menjanjikan hasil cepat tanpa usaha. Mereka lebih tertarik pada proses yang bermakna dan hasil yang bertahan lama. Konsep slow living mulai diminati.
Praktik slow living antara lain menikmati makanan tanpa distraksi ponsel, berjalan kaki tanpa target tertentu, hingga membaca buku fisik daripada konten digital yang super cepat.
Fenomena yang terlihat: Maraknya konten tentang membaca buku fisik, journaling, meditasi, dan berjalan-jalan tanpa tujuan tertentu (mindful walking). Aplikasi seperti Goodreads (untuk pencatatan bacaan) kembali populer.
5. Party Culture (Nongkrong sampai Larut Malam)
Generasi sebelumnya mungkin menganggap bergadang atau party tiap akhir pekan adalah hal yang keren. Namun Gen Z kini mulai tergeser oleh wellness lifestyle seperti olahraga pagi, yoga, pilates, hingga running club.
Berdasarkan data dari Strava tahun 2025, terjadi peningkatan partisipasi Gen Z dalam kegiatan olahraga komunitas sebesar 40 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mereka lebih memilih investasi jangka panjang untuk kesehatan daripada sekadar kesenangan sesaat. Hangout yang kini digemari adalah nongkrong di kafe sehat, kelas memasak, atau sekadar jalan pagi di taman bersama teman-teman.
6. Konsumsi Konten Pendek Berlebihan
Jika dulu TikTok dan Reels menjadi konsumsi utama, kini Gen Z mulai merasa lelah dengan ledakan informasi pendek yang super cepat. Mereka mulai menikmati format konten yang lebih panjang, substantif, dan mendalam.
Podcast, video esai (video essay) yang berdurasi 20-40 menit, hingga artikel panjang mulai kembali diminati karena dianggap memberikan wawasan yang lebih kaya dan tidak sekadar hiburan semata.
Fenomena yang terlihat: Platform seperti YouTube dengan konten edukasi panjang (seperti esai sejarah, analisis film, dan deep-dive teknologi) semakin populer di kalangan Gen Z. Spotify dengan podcast juga mencatat pertumbuhan pendengar Gen Z sebesar 35 persen pada 2025.
7. Transaksi Uang Tunai
Generasi yang lahir di era digital ini semakin jarang memegang uang fisik. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, penggunaan QRIS pada transaksi Gen Z meningkat 55 persen pada 2025 .
Dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, dan LinkAja menjadi primadona karena lebih praktis, cepat, dan terintegrasi dengan berbagai promo. Bahkan untuk transaksi jajan di pinggir jalan sekalipun, kini hampir semua pedagang telah menyediakan opsi pembayaran digital.
Fakta tambahan: Berdasarkan laporan internal Gojek, pengguna GoPay dari kalangan Gen Z meningkat 40 persen pada 2025. Sementara itu, penggunaan uang tunai di kalangan Gen Z turun drastis hingga 60 persen dalam tiga tahun terakhir.
(genvoice/idnresearch/mckinsey/strava****)






