Jakarta, KomentarNews – Tren suntik diet atau suntik kurus belakangan ini kian marak dibicarakan di media sosial. Banyak orang tergoda dengan janji manis bisa menurunkan berat badan dengan cepat tanpa perlu diet ketat atau olahraga berat.
Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan bahaya besar yang mengintai. Mulai dari efek samping ringan hingga kasus kematian di luar negeri, suntik kurus bukanlah tren kecantikan biasa, melainkan intervensi medis serius yang jika digunakan sembarangan bisa berujung pada ruang gawat darurat!
Dokter Spesialis Gizi Klinik di RSU Bhakti Asih, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menjelaskan bahwa istilah suntik kurus adalah bahasa awam yang merujuk pada penggunaan obat suntik tertentu .
“Jadi istilah suntik diet atau suntik kurus ini sebenarnya adalah bahasa awam yang sedang populer. Secara medis itu sebenarnya mengacu pada penggunaan obat-obat yang disuntikkan oleh pasien mandiri. Awalnya dikembangkan untuk pengobatan penyakit diabetes melitus tipe 2,” kata dr. Yaze dalam program Beauty Health di kanal YouTube Tribune Health .
Obat ini termasuk dalam golongan GLP-1 reseptor agonis, yang bekerja di otak untuk meningkatkan rasa kenyang dan memperlambat pengosongan lambung .
“Jadi mekanisme GLP-1 reseptor agonis ini kita logikakan seperti rem tangan. Jadi dia rem tangan untuk menahan rasa lapar,” lanjutnya .
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine: Clinical Cases mengungkap fakta mengerikan. Seorang pria berusia 32 tahun di Amerika Serikat harus dilarikan ke unit gawat darurat setelah mengalami diare parah hingga 30 kali dalam sehari akibat overdosis obat suntik kurus ilegal yang dibelinya secara online .
Pria tersebut, yang memiliki riwayat hipertensi, membeli retatrutide (obat eksperimental yang belum disetujui FDA) dari penjual online. Ia bahkan menggandakan dosisnya sendiri hingga 20 mg. Akibatnya, ia mengalami dehidrasi berat dan menunjukkan tanda-tanda awal cedera ginjal akut .
“Kasus ini berisi presentasi dramatis dari konsekuensi yang tidak diinginkan,” tulis penulis laporan tersebut .
Di Inggris Raya, Badan Pengawas Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) mengungkapkan data yang mencengangkan. Suntikan penurun berat badan diduga terkait dengan 168 kematian, meningkat 62 orang sejak Juni 2025 .
Angka ini berarti hampir 2 kematian per minggu dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan ini. Salah satu kematian dilaporkan terkait dengan penggunaan retatrutide, obat yang tidak disetujui untuk digunakan di Inggris dan kemungkinan besar dibeli di pasar gelap .
dr. Yaze menegaskan bahwa suntik diet bukanlah gaya hidup biasa, melainkan terapi medis yang harus berada di bawah pengawasan dokter.
“Jadi diet suntik ini adalah bukan gaya hidup, tapi terapi medis,” tegasnya .
Menurutnya, penggunaan diet suntik aman bila diberikan sesuai dengan indikasi medis dan dipantau oleh dokter spesialis gizi klinik.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak asal membeli obat suntik diet yang kini banyak dijual bebas di media sosial .
Selain risiko diare dan gagal ginjal, ada bahaya lain yang tak kalah mengerikan: muscle wasting atau hilangnya massa otot .
dr. Yaze menjelaskan bahwa penurunan berat badan drastis akibat diet suntik yang tidak diawasi dapat menyebabkan otot ikut hilang, bukan hanya lemak.
“Nah ini yang lumayan bahaya nih, kalau misalnya ototnya juga ikutan turun,” katanya .
Ia menyebut kondisi ini dikenal sebagai muscle wasting. Akibatnya, tubuh menjadi kurus namun tampak lesu, tidak segar, bahkan seperti orang sakit.
“Yang tadinya kita lihat waktu berat badannya berlebih agak segar, begitu turun drastis jadi kelihatan seperti orang sakit,” ujarnya .
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM, mengungkapkan bahwa penggunaan obat diabetes untuk diet instan tanpa pengawasan dokter bisa memicu radang pankreas (pankreatitis) dan gangguan pencernaan parah .
Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa obat-obatan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental . Dokter Natasha Yates dan Terri-Lynne South menulis di Australian Prescriber bahwa obat ini dapat memperburuk kondisi seperti depresi, pikiran untuk bunuh diri, dan tindakan bunuh diri.
Mereka juga memperingatkan bahwa penekanan nafsu makan dapat menyebabkan “kelaparan diri sendiri” atau asupan nutrisi yang buruk, terutama pada mereka yang memiliki gangguan makan.
BPOM sebenarnya telah memberikan izin penggunaan obat penekan rasa lapar untuk indikasi penanganan obesitas tingkat lanjut. Namun, regulasi medis yang ketat mengharuskan pasien mencoba program penurunan berat badan alami terlebih dahulu .
“Kami sudah bikin panduannya obesitas level berapa. Yang levelnya masih ringan suruh olahraga dulu tiga bulan, kalau enggak capai target baru masuk ke obat itu,” tutur Prof. Yunir .
(tribunnews/kompas/sciencealert/medpagetoday****/pharmacydaily***)






