Bolaang Mongondow, Komentarnews – Seorang sopir ambulans di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang saat sedang dalam perjalanan menjemput pasien. Insiden ini terjadi di Desa Bumbungon, Kecamatan Dumoga Timur, pada Minggu (24/5/2026) malam sekitar pukul 19.00 WITA .
Korban diketahui bernama Jhecy Koagow (26) , warga Desa Ponompiaan . Akibat penganiayaan tersebut, Jhecy mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit .
Kapolsek Dumoga Timur, IPDA Bramanda Langoy, memaparkan kronologi kejadian berdasarkan hasil penyelidikan sementara di lokasi kejadian.
Insiden bermula saat ambulans yang dikendarai korban melintas dari arah Imandi menuju Kotamobagu. Saat itu, di dalam ambulans tidak ada pasien, hanya korban bersama istri dan anaknya .
Setibanya di Desa Bumbungon, terjadi senggolan kendaraan dengan pihak lain. Korban kemudian turun dari mobil, terjadi adu mulut yang memanas hingga berujung pada aksi penganiayaan terhadap sopir ambulans tersebut .
“Di sinilah awalnya korban turun hingga terjadi adu mulut dan berujung penganiayaan tersebut,” jelas Kapolsek Bramanda Langoy kepada wartawan, Senin (25/5/2026) .
Polsek Dumoga Timur bergerak cepat. Setelah menerima laporan, petugas langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengamankan sementara 4 orang terduga pelaku untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut .
“Sekarang kita sudah amankan 4 terduga pelaku, dan kita terus kembangkan,” ujar Kapolsek, Senin (25/5/2026) .
Kapolsek Bramanda Langoy mengatakan pihaknya masih terus mengembangkan kasus ini dan tidak menutup kemungkinan jumlah terduga pelaku akan bertambah .
“Kemungkinan terduga pelaku masih akan bertambah, kita masih memastikan lebih jauh,” tandasnya .
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow, I Ketut Kolak, menyayangkan aksi penganiayaan yang menimpa sopir ambulans tersebut. Ia menegaskan bahwa insiden ini seharusnya tidak terjadi, mengingat posisi korban sedang dalam tugas kemanusiaan menjemput pasien .
“Posisinya sopir dalam tugas menjemput pasien di rumah sakit Pratama Modomang, namun ada insiden kecil hingga terjadi penganiayaan tersebut,” ucap Kolak .
Kolak juga menjelaskan bahwa meskipun ambulans yang dikendarai korban bukan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab), melainkan ambulans swasta, pihaknya tetap prihatin atas kejadian ini.
“Memang itu mobil ambulans swasta, tapi dalam kondisi sedang bertugas menjemput pasien untuk dirujuk ke RSUD Pobundayan malah mendapat insiden ini,” tambahnya .
Ia berharap masyarakat dapat lebih menahan diri, apalagi terhadap kegiatan atau aktivitas sosial yang menyangkut keselamatan jiwa orang lain.
“Kami sedang mendorong pelayanan kesehatan untuk lebih maju, saya minta semua bisa saling menjaga,” tandasnya .
Imbas dari kasus ini, Kapolsek Dumoga Timur mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi main hakim sendiri, apalagi hanya karena masalah sepele .
Usai kejadian, pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan perangkat desa setempat untuk mengedukasi warga agar menyelesaikan persoalan secara baik-baik tanpa kekerasan .
“Kami selalu menjaga keamanan, jadi kami minta agar semua pihak selalu bisa untuk mawas diri dan tidak langsung mengambil keputusan untuk menghakimi,” ucap Kapolsek .
Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan main hakim sendiri ini sudah sering terjadi, apalagi saat kecelakaan lalu lintas. Pihaknya akan menindak tegas jika masih ada upaya serupa di kemudian hari .
Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow saat ini terus mendorong peningkatan pelayanan kesehatan, termasuk upaya rujukan pasien ke rumah sakit yang lebih lengkap. Insiden penganiayaan terhadap sopir ambulans ini menjadi catatan penting bagi semua pihak agar lebih menghargai para tenaga kesehatan dan relawan yang bekerja dalam situasi darurat untuk menyelamatkan nyawa.
(*/Tribunmanado.co.id)






