Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin pagi (20/4/2026) dibuka menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.155 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.189 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca pembukaan Selat Hormuz untuk pelayaran komersial serta optimisme negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
“Sentimen risk appetite mulai kembali ke pasar negara berkembang. Dolar AS sedikit melemah seiring harapan akan tercapainya kesepakatan damai. Rupiah ikut menguat meskipun masih dibayangi oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi dalam negeri,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat menguat ke level Rp17.135 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.175 per dolar AS.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak mixed (beragam) dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS hari ini, tergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Ekonom dari Bank Mandiri, Faisal Rachman, menyatakan bahwa fundamental ekonomi domestik yang solid, termasuk cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang terkendali, menjadi penahan rupiah di tengah tekanan eksternal.
“Meskipun ada kenaikan harga BBM nonsubsidi, inflasi diperkirakan tetap terkendali karena BBM subsidi tidak naik. Ini menjadi sentimen positif bagi rupiah,” ujar Faisal.
(*ANT/ *Bloomberg)

