Jakarta, KomentarNews – Sebuah pernyataan kontroversial dari Gedung Putih pada September 2025 lalu telah memicu fenomena luar biasa di dunia medis Amerika Serikat. Sejak Presiden Donald Trump dan pejabat tinggi lainnya mempromosikan obat leucovorin sebagai terapi potensial untuk autisme, resep obat tersebut melonjak hingga 71% di atas angka normal, membuat para orangtua kini kesulitan mendapatkannya .
Fenomena ini terungkap dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal bergengsi The Lancet pada Kamis (5/3/2026) oleh peneliti dari Brown University School of Public Health dan Mass General Brigham. Studi tersebut menganalisis data resep dari lebih dari 1.600 rumah sakit dan 37.000 klinik di seluruh AS .
Lonjakan Drastis Pasca Pernyataan Presiden
Pada konferensi pers 22 September 2025, Presiden Trump menyampaikan kekhawatiran tentang penggunaan acetaminophen (obat penurun panas) selama kehamilan yang disebutnya terkait dengan risiko autisme. Bersamaan dengan itu, Komisioner FDA Dr. Marty Makary dengan lantang menyatakan, “Kami akan mengubah label untuk membuatnya tersedia [untuk anak-anak dengan autisme]. Ratusan ribu anak, menurut pendapat saya, akan mendapat manfaat” .
Akibatnya, data menunjukkan resep leucovorin untuk anak usia 5-17 tahun melonjak hingga 93% pada bulan pertama pasca pengumuman. Pada minggu kedua, jumlah resep bahkan lebih dari dua kali lipat dibanding prediksi berdasarkan tren sebelumnya . Yang lebih mencolok, sekitar 72% resep leucovorin ditulis untuk anak dengan diagnosis autisme, kelompok yang hanya mencakup 4% populasi anak dalam database penelitian .
Fenomena “Little Bottle of Hope”
Di kalangan orangtua, leucovorin kini dijuluki “little bottle of hope” atau “botol harapan kecil”. Sebuah grup Facebook bernama “Leucovorin for Autism” telah diikuti lebih dari 25.000 orang, sebagian besar adalah orangtua yang mencari obat ini untuk anak autis mereka .
Shawn Wilson, orangtua dari Christopher (7) yang nonverbal sejak lahir, mengaku sempat berharap “keajaiban” terjadi. “Saya berharap keajaiban terjadi dalam tiga hari dan dia mulai berbicara. kenyataannya tidak terjadi,” ujarnya kepada FOX5 Vegas . Putranya telah menggunakan obat selama sebulan dan dokter akan menghentikannya jika tidak ada perbaikan dalam enam bulan .
Kekhawatiran Dunia Medis
Namun, para ahli medis bereaksi keras terhadap promosi ini. Dr. Paul Offit dari Children’s Hospital of Philadelphia menyatakan leucovorin hanyalah “obat ajaib berikutnya dalam rangkaian panjang obat ajaib untuk mengobati autisme yang tidak pernah berhasil” . Ia mencatat sejarah panjang terapi autisme yang naik turun, mulai dari secretin, Lupron, antibiotik, megavitamin, hingga “favorit pribadi saya, susu unta mentah” .
Dr. Shafali Jeste, ketua pediatri di University of California Los Angeles, menegaskan bahwa uji coba yang ada “dilakukan tanpa ketelitian yang benar-benar kita inginkan untuk menentukan bahwa sesuatu harus disetujui FDA untuk autisme” . Ia mengaku tidak meresepkan leucovorin dan ketika orangtua bertanya, jawabannya tegas: “Jika saya punya pil yang bisa saya berikan kepada anak Anda untuk membantu mereka berbicara, atau sepenuhnya membalikkan gejala inti autisme, saya akan menjadi orang pertama yang meresepkannya. Kita tidak punya itu” .
Studi Kunci Ditarik, Pijakan Ilmiah Runtuh
Semakin memperumit situasi, pada Januari 2026, European Journal of Pediatrics secara resmi menarik publikasi studi yang menjadi salah satu rujukan utama efektivitas leucovorin untuk autisme. Penarikan dilakukan karena ketidakkonsistenan antara data dan kesimpulan utama penelitian .
Society for Developmental and Behavioral Pediatrics (SDBP) segera merespons dengan menegaskan kembali komitmen pada perawatan berbasis bukti. “Koreksi diri ilmiah adalah kekuatan, bukan kelemahan,” kata Bob Voigt, MD, Presiden SDBP .
Dampak pada Pasokan dan Akses
Lonjakan permintaan telah menyebabkan kelangkaan obat. Sebagai respons, FDA mengizinkan impor sementara tablet yang diproduksi di Spanyol dan dijual di Kanada, meskipun belum disetujui di AS .
Dr. Michael Barnett dari Brown University, salah satu penulis studi di The Lancet, menyoroti implikasi lebih luas: “Hasilnya menunjukkan betapa para pemimpin politik dapat mengarahkan perilaku kesehatan bahkan ketika tidak ada perubahan bukti untuk terapi ini” . Ia menambahkan bahwa konferensi pers Gedung Putih adalah “mekanisme yang sangat tidak biasa untuk mengkomunikasikan informasi medis dan melewati banyak pemeriksaan standar untuk memastikan pesan yang akurat” .
Dr. Jeremy Samuel Faust dari Harvard Medical School menyimpulkan dengan pedas: “Diperlukan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, bagi penelitian berkualitas tinggi untuk akhirnya menjangkau dokter. Di sini, dengan menggunakan Gedung Putih, itu dilakukan dalam semalam. Sayangnya, mereka mengklaim terobosan yang belum pernah terjadi” .
Sementara itu, para peneliti masih menunggu hasil uji coba terkontrol acak terbesar yang sedang berlangsung, yang diharapkan memberikan kejelasan tentang apakah leucovorin benar-benar bermanfaat untuk subset anak autis tertentu . Hingga saat itu tiba, American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan rutin leucovorin untuk anak autis .
(*The Lancet/ *NPR/ *AP/ *New England Journal of Medicine)
