Teheran, Komentarnews – Iran, Jumat (17/4/2026), menyatakan Selat Hormuz kini dibuka untuk pelayaran komersial selama sisa masa gencatan senjata 10 hari di Lebanon yang menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut pengumuman tersebut melalui media sosial, namun menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap kapal yang keluar atau masuk pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai dengan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis di platform media sosial X bahwa selat tersebut, yang merupakan jalur vital bagi transportasi minyak dan gas global, telah “dinyatakan sepenuhnya terbuka” melalui rute terkoordinasi yang sebelumnya diumumkan oleh pihak Iran.
Trump mengeklaim bahwa Iran telah sepakat untuk “tidak akan pernah” menutup jalur pelayaran penting itu lagi. “Selat itu tidak akan lagi digunakan sebagai senjata terhadap dunia,” tulisnya, seraya menambahkan bahwa Iran, dengan bantuan AS, sedang menyingkirkan ranjau laut di kawasan tersebut.
Meski rincian pembukaan kembali selat itu masih belum jelas, kontrak berjangka utama minyak mentah AS turun lebih dari 10 persen hingga di bawah 90 dolar AS per barel (sekitar Rp1,47 juta) setelah pernyataan menteri luar negeri Iran, yang disiarkan sehari setelah gencatan senjata yang didukung AS antara Israel dan Lebanon mulai berlaku. Sebelumnya, sebagian besar Selat Hormuz diblokir oleh Iran sejak dimulainya serangan terhadap negara itu oleh AS dan Israel pada akhir Februari.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga memimpin tim negosiasi negaranya, menyatakan bahwa klaim Presiden AS tidak akurat. “Presiden AS membuat tujuh klaim dalam satu jam, yang semuanya tidak benar,” katanya dalam unggahan di X. Ia menegaskan bahwa selat tersebut tidak akan tetap terbuka jika blokade angkatan laut AS terus berlanjut.
Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, yang didukung AS, mulai berlaku sehari sebelum pernyataan Araghchi. Kesepakatan ini menghentikan sementara pertempuran yang telah berlangsung intens di perbatasan Lebanon selatan.
Pengamat Timur Tengah dari Chatham House, Dr. Sanam Vakil, menilai langkah Iran ini sebagai gerakan taktis. “Iran ingin menunjukkan itikad baik di tengah negosiasi, tetapi blokade AS yang masih berlanjut menunjukkan bahwa ketegangan belum benar-benar mereda. Selat Hormuz mungkin terbuka untuk kapal komersial tertentu, tetapi ancaman militer masih membayangi,” ujar Vakil.
(*ANT/ *Reuters)

