San Francisco, KomentarNews – Di tengah persaingan sengit di industri kecerdasan buatan (AI), OpenAI bergerak cepat dengan menyusun strategi ekspansi agresif. Perusahaan yang menaungi ChatGPT tersebut dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk mengucurkan dana hingga 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp24,3 triliun) ke dalam sebuah kendaraan investasi bersama (joint venture) baru bersama sejumlah firma ekuitas swasta (private equity/PE) raksasa, yang secara internal diberi nama DeployCo.
Kesepakatan ini dirancang untuk mempercepat adopsi alat AI OpenAI di perusahaan-perusahaan portofolio milik para investor PE sekaligus memperkuat dominasi OpenAI di pasar korporasi, menurut laporan Financial Times yang dikutip pada Rabu (22/4/2026).
Analis teknologi dari Futurum Group, Daniel Newman, menilai bahwa langkah OpenAI ini adalah “senjata pemusnah massal” untuk menguasai pasar enterprise. “OpenAI tidak hanya menjual lisensi API. Mereka sekarang punya ‘tentara’ yang dikendalikan oleh private equity untuk menyebarkan AI ke seluruh lini bisnis. Ini adalah gerakan catur tingkat dewa,” ujar Newman.
Guru Besar AI dari Stanford University, Dr. Fei-Fei Li, berpendapat bahwa struktur joint venture ini bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan AI lainnya. “Kombinasi antara modal besar dari PE dan teknologi dari startup AI menciptakan akselerasi adopsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yang perlu diawasi adalah aspek etika dan tata kelola data di perusahaan-perusahaan portofolio nantinya,” ujar Fei-Fei Li.
Pada tahap awal, OpenAI berencana menanamkan modal ekuitas sekitar 500 juta dolar AS (sekitar Rp8,1 triliun) ke dalam DeployCo. Kantong gurita teknologi itu diproyeksikan akan memiliki valuasi mencapai 10 miliar dolar AS (sekitar Rp162 triliun) dalam putaran pendanaan yang ditargetkan rampung pada awal Mei mendatang. OpenAI juga memiliki opsi untuk menambah suntikan dana hingga 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,2 triliun) pada tahap berikutnya.
Investor-investor seperti TPG, Bain Capital, Advent International, Brookfield, dan Goanna Capital diprediksi akan ikut menyuntikkan dana segar sekitar 4 miliar dolar AS (sekitar Rp64,8 triliun) ke dalam kendaraan investasi ini.
DeployCo, yang berbentuk Perseroan Terbatas (LLC) berbasis di Delaware, dirancang sebagai “lengan penerapan” (deployment arm) yang akan membantu perusahaan-perusahaan mengintegrasikan model AI OpenAI ke dalam operasi mereka. Para investor PE diwajibkan berkomitmen selama lima tahun dengan imbal hasil tahunan sekitar 17,5 persen.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. I Gede Wenten, M.Sc. , mengingatkan bahwa Indonesia harus mulai mempersiapkan diri menghadapi gelombang adopsi AI massal ini. “Jika OpenAI dan PE besar masuk ke perusahaan-perusahaan di Indonesia melalui skema seperti ini, kita perlu memastikan ada regulasi yang melindungi data nasional dan tenaga kerja lokal. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar, bukan pemain,” ujar I Gede Wenten.
Meskipun menggandeng mitra finansial besar, OpenAI dipastikan tidak akan kehilangan kendali. Perusahaan akan memegang saham super-voting di DeployCo, sehingga tetap dapat mengarahkan arah strategis sesuai visi jangka panjang mereka.
(Reuters, Financial Times, Bloomberg)


