Cupertino, KomentarNews – Apple resmi mengumumkan era kepemimpinan barunya. John Ternus, yang saat ini menjabat sebagai Senior Vice President of Hardware Engineering, akan mengambil alih kursi CEO dari Tim Cook pada 1 September 2026. Sementara itu, Cook akan beralih peran menjadi Executive Chairman setelah memimpin raksasa teknologi selama lebih dari satu dekade.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan besar yang membayangi Apple: ketertinggalan dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Di bawah kepemimpinan Cook, kapitalisasi pasar Apple memang meroket dari sekitar 350 miliar dolar AS menjadi hampir 4 triliun dolar AS (Rp64.000 triliun), dengan pendapatan tahunan meningkat hampir empat kali lipat . Namun, kritik terus menghujani Apple karena dinilai lamban merespons revolusi AI yang dipelopori ChatGPT, sehingga posisinya sebagai perusahaan paling berharga sempat direbut oleh Nvidia.
Dalam pernyataan resmi Apple, Cook menyatakan bahwa ini adalah keputusan yang telah direncanakan matang. “John memiliki jiwa insinyur, hati seorang inovator, dan visi untuk masa depan,” ujar Cook. “Saya akan terus mendukungnya dalam transisi ini dan fokus pada interaksi global dengan para pembuat kebijakan” .
Ternus, yang bergabung dengan Apple pada tahun 2001, dikenal sebagai “arsitek di balik layar” berbagai produk revolusioner. Ia memimpin transisi Mac dari prosesor Intel ke Apple Silicon, yang mengubah lanskap komputer pribadi, serta bertanggung jawab atas pengembangan iPhone, iPad, dan AirPods .
“Apple adalah rumah saya selama hampir 25 tahun. Saya merasa rendah hati untuk memimpin perusahaan ini di era berikutnya, melanjutkan warisan inovasi yang ditinggalkan Steve Jobs dan Tim Cook,” kata Ternus dalam video sambutannya.
7 Misi Besar John Ternus: Menyelamatkan Siri hingga Hadapi Trump
Analis dari Wedbush Securities, Dan Ives, menyebut bahwa Ternus mewarisi “posisi terpanas di Silicon Valley.” Dalam sebuah catatan penelitian, Ives merinci tujuh tantangan utama yang harus segera diatasi Ternus untuk membuktikan dirinya di hadapan investor dan pasar global :
-
Menyelamatkan Siri dan Membalikkan Keterbelakangan AI: Apple harus segera mengejar ketertinggalan dari Google dan OpenAI. Strategi yang ditempuh saat ini adalah mengakuisisi teknologi melalui kemitraan besar dengan Google Gemini (dilaporkan senilai $1 miliar per tahun) . Namun, langkah ini dianggap “pengakuan diam-diam” bahwa Siri yang dikembangkan sendiri belum cukup kuat. Tantangan Ternus adalah mengintegrasikan AI ke seluruh lini produk tanpa mengorbankan privasi—sesuatu yang selama ini menjadi jargon utama Apple melalui sistem Private Cloud Computer .
-
Menghadapi “Setelah iPhone”: Industri sedang berspekulasi tentang perangkat apa yang akan menggantikan ponsel pintar. OpenAI, melalui akuisisi terhadap mantan kepala desainer Apple Jony Ive, dikabarkan sedang mengembangkan perangkat keras AI generasi berikutnya. Ternus harus menentukan apakah Apple akan terus mengandalkan iPhone atau mencari bentuk faktor baru .
-
Menata Ulang Tenaga Kerja Raksasa: Dengan efisiensi yang didorong oleh AI, banyak raksasa teknologi melakukan pemangkasan karyawan. Ternus mungkin harus melakukan restrukturisasi besar-besaran pada 160.000 karyawan Apple global untuk mengalokasikan dana ke pengembangan AI .
-
Memangkas atau Menambah Investasi Hiburan: Apple TV+ telah menghabiskan dana hingga $30 miliar, tetapi masih minim “blockbuster.” Ternus harus memutuskan apakah akan memperkuat posisi Apple di Hollywood atau mengurangi ambisi streaming .
-
Meracik Tim Manajemen Baru: Sebagai CEO baru, Ternus diprediksi akan menyusun ulang jajaran eksekutif, termasuk mengganti atau mempertahankan jajaran pimpinan lama Cook .
-
Bersahabat dengan Trump: Di bawah kepemimpinan Cook, Apple mampu bertahan dari perang dagang AS-China. Ternus harus segera membangun hubungan dengan pemerintahan baru untuk menghindari tarif yang dapat merusak rantai pasok Apple .
-
Menjaga Hubungan dengan Berkshire Hathaway: Sebagai pemegang saham terbesar, dukungan dari Berkshire sangat penting. Ternus harus meyakinkan investor baru bahwa Apple tetap merupakan investasi yang aman di tengah gejolak .
Selain tujuh poin di atas, analis juga menyoroti masalah budaya internal Apple yang dinilai terlalu kaku. Selama era Cook, Apple lebih dikenal sebagai mesin pemasaran dan operasi yang efisien, bukan sebagai pusat inovasi disruptif seperti era Jobs .
Laporan menunjukkan bahwa Apple kehilangan banyak talenta AI karena budaya kerja yang tertutup dan enggan mengambil risiko besar. Pada tahun 2024, puluhan peneliti AI hengkang, termasuk figur kunci yang memimpin pengembangan Apple Intelligence .
Ternus, yang menghabiskan 25 tahun di Apple, dikenal sebagai sosok teknokrat yang rendah hati. Kini, ia harus membuktikan bahwa seorang “insinyur keras” mampu mengubah kapal raksasa ini untuk berbelok cepat menuju era AI, atau ia akan menjadi saksi bisu kejayaan Apple yang perlahan memudar.
( Reuters, Bloomberg, Fortune, Wedbush Securities)

