Jakarta, Komentarnews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore (26/3/2026) ditutup melemah 138,03 poin atau 1,89 persen ke posisi 7.164,09. Pelemahan ini mengikuti bursa saham kawasan Asia di tengah ketidakpastian negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga turut terkoreksi 14,72 poin atau 1,97 persen ke posisi 731,73. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah setelah sempat dibuka menguat pada awal sesi.
Eskalasi Konflik Picu Kekhawatiran Inflasi
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa eskalasi konflik AS-Iran yang juga melibatkan Israel menjadi faktor utama di balik pelemahan ini.
“Eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran yang juga melibatkan Israel mendorong lonjakan harga minyak, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global kembali naik dan menunda ekspektasi penurunan suku bunga,” ujar Elandry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, ketidakpastian konflik mendorong pelemahan bursa saham kawasan Asia karena risiko gangguan pasokan energi dan potensi eskalasi militer yang lebih luas. Pelaku pasar saat ini menunggu perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk peluang gencatan senjata maupun risiko eskalasi lanjutan meskipun ada dorongan diplomasi dari Donald Trump.
Investor Cenderung Defensif, Asing Masih Aksi Jual
Elandry menambahkan bahwa arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) tetap menjadi fokus utama, terutama terkait inflasi dan kepastian waktu penurunan suku bunga global.
“Investor saat ini cenderung defensif, dengan investor asing masih melanjutkan aksi jual. Terlihat indikasi rotasi cukup besar dari investor institusi, terutama dari saham growth ke sektor defensif dan berbasis komoditas,” kata Elandry.
Ia juga mencatat bahwa aliran dana global cenderung bergerak ke aset safe haven seperti dolar AS dan energi, sehingga memberi tekanan tambahan bagi pasar emerging termasuk Indonesia. Dari dalam negeri, tekanan tambahan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran meningkatnya beban fiskal akibat harga energi yang tinggi.
Sepuluh Sektor Melemah, Transportasi & Logistik Satu-Satunya yang Menguat
Berdasarkan data perdagangan, sektor transportasi & logistik menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 2,68 persen. Sementara itu, sepuluh sektor lainnya melemah, dengan sektor energi menjadi yang paling dalam koreksinya, turun 2,67 persen, diikuti sektor industri (2,65 persen) dan sektor barang baku (2,16 persen).
Saham-saham dengan penguatan terbesar antara lain AYLS, KUAS, TALF, SSTM, dan SOTS. Sementara saham yang mengalami pelemahan paling dalam adalah DEFI, ROCK, INDS, ICON, dan ARTA.
Volume dan Frekuensi Perdagangan
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.725.786 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 31,14 miliar lembar saham senilai Rp32,34 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 292 saham naik, 380 saham menurun, dan 148 saham tidak bergerak nilainya.
Pelemahan IHSG Sejalan dengan Bursa Asia
Pelemahan IHSG sejalan dengan bursa saham regional Asia. Indeks Nikkei Jepang melemah 260,62 poin (0,48 persen) ke 53.489,00, indeks Shanghai melemah 42,75 poin (1,09 persen) ke 3.889,08, indeks Hang Seng melemah 479,52 poin (1,89 persen) ke 24.856,43, dan indeks Straits Times Singapura melemah 16,78 poin (0,34 persen) ke 4.887,76.
(*ANT/ *BEI)
