Teheran, komentarnews – Iran menyatakan sedang menelaah proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat yang disampaikan melalui negara-negara perantara. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung hampir empat pekan, sementara Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa para pemimpin Iran sebenarnya ingin segera mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa Teheran telah menerima rencana gencatan senjata AS melalui perantara dan saat ini tengah mengkajinya. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada “perundingan atau dialog” langsung dengan Washington, hanya pertukaran pesan melalui jalur diplomatik.
“Kami telah menerima proposal tersebut melalui negara-negara sahabat. Saat ini kami sedang menelaahnya dengan saksama. Namun perlu ditegaskan, tidak ada perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Hanya ada pertukaran pesan,” kata Abbas Araqchi dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Kamis (26/3/2026).
Rencana AS disebut mencakup proposal 15 poin untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat pekan. Isi proposal tersebut meliputi penghentian serangan, isu program nuklir Iran, serta pengembangan rudal. Namun, hingga saat ini, rincian resmi dari proposal tersebut belum dipublikasikan secara terbuka.
Di Washington, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang berbeda. Ia mengklaim bahwa para pemimpin Iran sebenarnya ingin membuat kesepakatan tetapi takut mengakuinya.
“Mereka sedang bernegosiasi. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Tapi mereka takut untuk mengakuinya karena khawatir akan reaksi rakyat mereka atau kemungkinan serangan AS. Kita lihat saja nanti,” ujar Presiden Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Rabu (25/3/2026), seperti dikutip Reuters.
Pernyataan yang saling bertentangan ini muncul di tengah perang yang telah menimbulkan dampak ekonomi dan kemanusiaan besar. Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu telah menyebabkan gangguan pasokan energi global, lonjakan harga minyak, serta memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, juga terdampak dengan adanya peningkatan ketegangan militer di kawasan tersebut. Jumlah korban jiwa dari kedua belah pihak terus bertambah, dengan laporan terbaru menyebutkan lebih dari 1.400 orang tewas sejak konflik meletus.
(*IRNA/ *Reuters/ *AFP/ *Al Jazeera)
