Jakarta, Komentarnews – Sebuah laporan rahasia yang kini mencuat ke publik telah mematahkan mitos superioritas angkatan udara Amerika Serikat. Congressional Research Service (CRS), lembaga peneliti dan analis kebijakan untuk Kongres AS, merilis dokumen menghebohkan yang mengakui bahwa militer AS kehilangan sedikitnya 42 pesawat tempur, tanker, hingga drone dalam konflik sengit melawan Iran.
Kerugian ini terjadi selama operasi militer besar-besaran yang dijuluki “Operation Epic Fury” (OEF), yang dimulai pada 28 Februari 2026. Angka ini dinilai mengejutkan karena melibatkan platform-platform tercanggih sekaligus termahal yang dimiliki Pentagon. Dokumen CRS bernomor IN12692 yang dirilis 12 Mei 2026 itu kini menjadi bahan analisis hangat di kalangan pengamat militer global, karena dianggap mencoreng citra “superpower” yang selama puluhan tahun tidak tersentuh .
Laporan CRS yang dikutip oleh media internasional seperti The Economic Times dan Defence Industry Europe menyebutkan bahwa kerugian tersebut merupakan yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Berikut rincian pesawat yang hancur atau rusak berdasarkan data resmi yang dihimpun dari berbagai pernyataan Departemen Pertahanan (DOD), Komando Pusat AS (CENTCOM), dan siaran pers .
Berikut adalah tabel kerugian alutsista udara AS:
| Jenis Pesawat | Jumlah Unit | Status Kerusakan | Peran Strategis |
|---|---|---|---|
| F-15E Strike Eagle | 4 unit | Hancur | Jet tempur serang multi-peran andalan AS |
| F-35A Lightning II | 1 unit | Rusak Berat | Jet tempur siluman termahal (generasi ke-5) |
| A-10 Thunderbolt II | 1 unit | Hancur | Pesawat serang darat legendaris |
| MQ-9 Reaper | 24 unit | Hancur | Drone tempur dan pengintai (paling banyak hilang) |
| KC-135 Stratotanker | 7 unit | 2 hancur, 5 rusak | Pengisian bahan bakar di udara (logistik vital) |
| MC-130J Commando II | 2 unit | Hancur | Pesawat operasi khusus |
| HH-60W Jolly Green II | 1 unit | Rusak | Helikopter penyelamat tempur |
| E-3 Sentry AWACS | 1 unit | Rusak Berat | Pesawat peringatan dini dan komando udara |
| MQ-4C Triton | 1 unit | Hancur | Drone pengintai maritim strategis |
| TOTAL | 42 unit | 28 hancur / 14 rusak | Nilai kerugian diperkirakan Rp 437 Triliun |
Yang menarik dari laporan CRS ini adalah pengakuan jujur atas berbagai penyebab jatuhnya pesawat, mulai dari pertahanan udara Iran yang ganas hingga kesalahan fatal dari pihak sendiri.
1. “Friendly Fire” di Kuwait
CENTCOM mengakui bahwa pada 2 Maret 2026, tiga unit jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh secara tragis oleh tembakan ramah (friendly fire) di wilayah udara Kuwait. Kejadian ini menyebabkan kerugian besar dalam satu waktu, meskipun seluruh kru (enam orang) berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar .
2. F-35 Siluman Tergores
Mitos kehebatan pesawat siluman generasi ke-5, F-35A, mulai dipertanyakan. Sebuah laporan berita pada 19 Maret 2026 mengkonfirmasi bahwa satu unit F-35A rusak akibat tembakan darat Iran selama misi tempur di atas wilayah Iran. Ini menjadi salah satu pukulan psikologis terbesar bagi AS, karena membuktikan bahwa sistem radar Iran mampu mendeteksi dan melumpuhkan “jet masa depan” tersebut .
3. Pangkalan Udara Diserbu Drone dan Rudal
Serangan masif Iran tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di basis-basis sekutu AS. Sebanyak 5 unit KC-135 Stratotanker rusak di darat saat diparkir di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, akibat serangan rudal dan drone Iran pada 14 Maret 2026 . Satu unit E-3 Sentry AWACS yang mahal juga ikut rusak di pangkalan yang sama karena diparkir di area yang tidak terlindungi .
Plt Komptroler Pentagon, Jules W. Hurst III, dalam sidang kongres pada 12 Mei 2026, mengakui bahwa estimasi biaya operasi “Operation Epic Fury” kini telah membengkak menjadi $29 miliar (sekitar Rp 469 triliun). Ia menyebutkan sebagian besar kenaikan berasal dari biaya perbaikan atau penggantian peralatan yang hancur .
Lebih mengkhawatirkan lagi, CRS memperkirakan biaya penggantian jangka panjang bisa menembus $7 miliar. Pasalnya, beberapa sistem yang hancur, seperti E-3 Sentry, sudah tidak diproduksi lagi. Hal ini diperparah dengan ketergantungan pada platform yang rentan seperti drone MQ-9 Reaper yang jumlahnya hancur 24 unit .
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan lincah memanfaatkan laporan ini untuk propaganda perang. Dalam unggahan di akun media sosial X, Araghchi membagikan laporan CRS dan menyatakan bahwa milisi Iran adalah pihak pertama yang berhasil “menembak jatuh F-35 yang digembar-gemborkan itu.”
“Dengan pelajaran yang didapat dan pengetahuan yang kami peroleh, kembalinya perang akan menampilkan banyak kejutan lainnya,” ancam Araghchi, memperingatkan bahwa jika AS atau Israel melanjutkan agresi, perang tidak akan lagi terbatas di kawasan Teluk .
Laporan ini secara tidak langsung mengirimkan sinyal bahaya bagi pabrikan persenjataan Barat. “Ini adalah perang pertama di mana sistem pertahanan udara modern berbasis rudal, drone, dan perang elektronik terbukti sangat efektif melawan armada udara AS,” tulis analis Defence Industry Europe .
Kekhawatiran utama muncul dari potensi perang dengan China di kawasan Pasifik. Jika menghadapi musuh sekelas China yang memiliki sistem penolakan akses (A2/AD) yang jauh lebih canggih, biaya yang harus dibayar AS bisa puluhan kali lipat lebih besar dari kerugian di Iran. Ratusan miliar dolar untuk pengadaan F-35 dan drone modern kini dianggap sebagai investasi yang berisiko jika tidak diimbangi dengan taktik perang yang baru.
(Congressional Research Service (CRS) / The Hill / The Economic Times / Defence Industry Europe / Uniindia / Tribunnews.com)






