Jakarta, KomentarNews – PT Bank DBS Indonesia menilai Indonesia berada pada posisi strategis sebagai tujuan utama pergeseran rantai pasok global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pasca tarif Trump dan konflik AS-Israel dengan Iran, arus perdagangan serta investasi dunia bergeser, dan Indonesia dinilai menjadi salah satu negara yang berpotensi diuntungkan.
Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan bahwa stabilitas domestik yang relatif terjaga serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat membuat Indonesia semakin menarik di mata investor. “Bagi pelaku usaha Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar tren bilateral, melainkan peluang untuk memperluas pasar dan memperkuat bisnis lintas negara,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (20/4/2026).
5 Strategi DBS untuk Korporasi di Tengah Ketidakpastian Global
DBS merumuskan sejumlah rekomendasi strategi bagi korporasi, khususnya yang terlibat dalam bisnis lintas negara dengan China:
-
Antisipasi risiko geopolitik melalui diversifikasi pasar dan rantai pasok regional. DBS Group Research memproyeksikan ekonomi China tetap tumbuh sekitar 4,5 persen, didukung kebijakan moneter akomodatif.
-
Pengelolaan risiko nilai tukar menjadi krusial. DBS memperkirakan rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp16.350 pada akhir 2026.
-
Bangun struktur keuangan yang siap menangkap peluang jangka panjang. Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 5,3 persen dengan inflasi 2,8 persen.
-
Manfaatkan pergeseran rantai pasok regional. Data menunjukkan posisi China sebagai investor asing di Indonesia meningkat signifikan, dengan nilai investasi mencapai sekitar 34,19 miliar dolar AS sepanjang 2019 hingga September 2024 (sekitar 18 persen dari total investasi asing).
-
Perkuat posisi dalam rantai pasok global dan kolaborasi industri melalui kemitraan strategis, joint venture, maupun integrasi jaringan produksi lintas negara.
Salah satu inisiatif strategis adalah kerja sama Two Parks Twin Countries (TCTCP) yang diperbarui pada Mei 2025, menekankan pengembangan kapasitas industri dan nilai tambah antara Indonesia dan China. Investasi China terkonsentrasi di sektor logam, transportasi, logistik, kimia, dan energi.
Kepala Ekonom DBS Bank, Taimur Baig, menilai bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk naik kelas di tengah perang dagang dan geopolitik. “Indonesia tidak hanya menjadi alternatif dari China, tetapi mitra strategis dalam rantai pasok regional. Stabilitas politik dan reformasi struktural menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak negara tetangga,” ujar Taimur dalam paparan terpisah.
(*DBS Indonesia/ *ANT)

