Jakarta, KomentarNews – Mobil listrik (electric vehicle/EV) yang mati mendadak saat melintasi rel kereta api bukan tanpa sebab. Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, mengungkapkan bahwa gangguan pada sistem kelistrikan dan proteksi menjadi faktor utama yang membedakan EV dari mobil konvensional berbahan bakar minyak (ICE) .
“Berbeda dengan mobil ICE yang mati karena masalah pasokan bahan bakar atau pengapian, EV biasanya mati karena kegagalan pada sistem manajemen energi atau sirkit proteksi,” kata Agus saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (30/4/2026) .
Agus mengungkap salah satu penyebab paling umum adalah kegagalan baterai 12 volt (auxiliary battery) atau yang disebut aki pada mobil ICE. Meskipun EV memiliki baterai utama bertegangan tinggi, komponen penting seperti sistem pintar komputer, sensor, dan kelistrikan dasar bergantung pada baterai kecil tersebut.
“Ini adalah penyebab paling umum. Meskipun memiliki baterai traksi bertegangan tinggi (HV), sistem komputer, lampu, dan sensor EV dijalankan oleh baterai 12V biasa. Jika baterai 12V drop atau mati, main relay tidak bisa menutup, sehingga daya dari baterai besar tidak bisa mengalir ke motor penggerak. Mobil akan mati total meskipun persentase baterai utama masih 80 persen,” ujar Agus.
Main relay atau relay utama adalah komponen saklar listrik yang menghubungkan atau memutus aliran listrik dari baterai utama ke sistem kendaraan.
Selain itu, Battery Management System (BMS) juga berperan penting. Jika terjadi panas berlebih pada inverter atau baterai, sistem akan secara otomatis memutus aliran daya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
“Jika inverter atau baterai mengalami overheating akibat kegagalan pompa pendingin atau cuaca ekstrem, sistem BMS akan memutus aliran daya secara mendadak untuk mencegah kebakaran atau kerusakan permanen,” katanya.
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah sistem pengaman tegangan tinggi, yakni mekanisme High Voltage Interlock Loop (HVIL) yang akan langsung mematikan sistem jika terdeteksi gangguan.
“Jika sensor mendeteksi adanya kebocoran arus ke sasis atau adanya soket kabel tegangan tinggi yang longgar akibat guncangan di rel kereta yang tidak rata, sistem akan langsung melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik,” imbuhnya.
Meski jarang, gangguan elektromagnetik di area rel juga berpotensi memengaruhi sistem kendaraan. Medan elektromagnetik kuat dapat mengganggu komunikasi data internal kendaraan dan memicu sistem proteksi.
“Meskipun jarang dan teknologinya sudah semakin terproteksi, area perlintasan kereta api memiliki medan elektromagnetik yang kuat dari kabel transmisi atas pada KRL dan rel jalur balik. Pada unit dengan proteksi shielding yang kurang sempurna, EMI ekstrem berpotensi mengganggu komunikasi data pada Controller Area Network kendaraan, yang menyebabkan komputer salah membaca data dan mematikan sistem sebagai bentuk proteksi,” jelas Agus.
Hal senada diungkapkan pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu. Menurutnya, mobil listrik modern memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan elektromagnetik sehingga kecil kemungkinan mati mendadak karena faktor tersebut.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api karena medan elektromagnetik,” ujarnya ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu (29/4/2026) .
Ia menjelaskan, mobil listrik modern telah dirancang dengan pelindung interferensi elektromagnetik dan wajib lolos serangkaian uji kompatibilitas sebelum dipasarkan.
Kesimpulannya, matinya EV di rel kereta lebih banyak disebabkan oleh masalah internal pada baterai 12V, sistem pendingin, atau mekanisme proteksi otomatis, daripada pengaruh medan magnet dari jalur kereta itu sendiri.
(Sumber: ANTARA, ITB)


