Jakarta, Komentar, News – Pabrikan otomotif asal Amerika Serikat, Ford, akan memperluas kerja sama dengan produsen otomotif China untuk memperkuat pasar mancanegara, sembari tetap mewaspadai masuknya merek-merek China ke pasar domestik. CEO Ford Motor Jim Farley menilai produsen mobil China kini memimpin industri dalam sejumlah aspek penting.
“Mereka memimpin dunia dalam banyak hal jika melihat teknologi, biaya, dan kecepatan yang mereka lakukan,” ujar Farley dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, dikutip Carscoops, Sabtu (18/4/2026).
Pernyataan itu menegaskan pandangan Farley dalam beberapa tahun terakhir yang menilai kebangkitan industri otomotif China sebagai perkembangan yang mengesankan sekaligus ancaman serius bagi produsen Barat. Menurut Farley, pabrikan China seperti BYD, Geely, Xiaomi, dan SAIC tidak hanya mampu menjual mobil dengan harga lebih murah, tetapi juga mampu mengembangkan produk lebih cepat. Farley menilai perusahaan-perusahaan tersebut unggul dalam perangkat lunak kendaraan, teknologi baterai, serta efisiensi produksi yang sulit disaingi banyak produsen otomotif lainnya.
Farley juga memperingatkan bahwa industri otomotif Amerika Serikat akan terpengaruh, baik dari sisi manufaktur maupun lapangan kerja, apabila mobil buatan China masuk secara luas ke pasar AS. “Cara ini tidak akan menjadi pertarungan yang seimbang,” kata Farley, dalam wawancara terpisah dengan Fox News.
Oleh karena itu, Ford ingin memanfaatkan keunggulan teknologi dan efisiensi produsen China melalui kemitraan di pasar luar negeri, sambil mempersiapkan strategi menghadapi persaingan di dalam negeri. Ford saat ini telah memiliki jaringan operasional besar di China dan menjalin sejumlah kemitraan dengan perusahaan lokal. Kerja sama tersebut dinilai dapat membantu perusahaan mempertahankan daya saing di wilayah seperti Eropa, Amerika Selatan, Asia Tenggara, hingga Meksiko.
Farley menyebut langkah yang paling penting saat ini adalah menyiapkan rencana sebelum mengambil keputusan besar terkait produksi lokal maupun impor dari China.
Pengamat otomotif dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) , Bhima Yudhistira, menilai langkah Ford ini cerdas tetapi penuh risiko. “Ford tidak bisa mengabaikan efisiensi China. Bekerja sama lebih baik daripada bertarung di pasar global. Namun, di AS, tekanan politik untuk melindungi industri dalam negeri sangat kuat. Ford harus berjalan di dua kaki: kerja sama di luar negeri, proteksionisme di dalam negeri,” ujar Bhima.
(*Carscoops/ *The Wall Street Journal/ *ANT)

